Selamat Datang di Portal UKM LIMA WASHILAH

Untuk Peningkatan Perilaku Islami, Penggalakan Kualitas Ilmiah dan Pembobotan Idealisme

Kemanusiaan yang Rakus dan Biadab

Karya : Nur Samawiah Ukhhhh……Bising banget seh!!! Kuaambil guling kutekan rapa-rapat pada telingaku, karena tak sedikitpun mata ini bisa tertutup mendengar suara bising dan pukulan keras dari samping tembok kosku. Terdengar suara orang menangis dari depan pintu kos mungilku itu. “Mama…Uangta…” ternyata si Resti anak Ibu kosku yang paling tua. Dia menangis meraung-raung hanya karena ingin meminta uang seribu. Namun tak sedikitpun ada tanda-tanda bahwa dia akan mendapatkan uang seribu rupiah dari mamanya. Maklum kehidupan ekonomi mereka sangat terbatas. Terkadang dalam sehari, mereka tidak memiliki lauk pauk untuk sekedar mengenyangkan perut mereka dari lilitan lapar yang semakin memerih. Raungan Resti semakin menjadi-jadi dan lebih menggila lagi. Bantal guling ini semakin kutekan pada telingaku. Hatiku semakin kacau dengan keadaan ini. Ditambah pula dengan suhu kota Makassar mencapai 32˚C, menambah suasana menjadi panas dan mengundang emosiku karena tak sedikuipun bisa memejamkan mata. Terdengar suara motor merendah di samping kosku.


Kenapaki menangis nak?” Ternyata bapak kosku yang baru datang dari tempat kerjanya. “Mama Pak, tidak mau nakasika uang seribu, mauka belli somay” sambil terisak. “ini uang, kasi juga Agung adikmu” sambil menyodorkaan lembaran dua ribuan. Dengan seketika derai tangis itupun berhenti. Meskipun bapak Kosku berprofesi sebagai seorang satpam dia tahu, meskipun serba kekurangan dia tetap tahu bagaimana harus menyenangkan hati rakyat-rakyat kecilnya di rumah. Beda dengan para koruptor yang hanya tau meraup uang Negara dan membuat rakyat-rakyat kecil menjadi sasaran penderitaan akibat ulah mereka yang tidak senonoh itu.

Namun mata ini belum bisa pula kupejamkan. Masih terdengar suara bising dari samping kosku. Pukulan itu semakin kencang memekakkan telingaku. “Akhh…..ribut banget seh….”. Akupun berdiri sambil mengumpat gak karuan, emosiku sepertinya sudah tak bisa kubendung lagi. Kuambil bukuku yang berjudul Huru -ara di Irak, di samping lemari bajuku. Kehadiran buku itu mulai sedikit mengobati kepenatanku. Mengobati tragedi kantukku yang sedari tadi mulai buram dan menghilam di pelupuk mataku. Kubaca dengan seksama buku Ini yang ikut menenggelamkan fikiranku menuju ke tahun 2003 silam pasca penggempuran Amerika terhadap Irak yang begitu biadab selama 43 hari. Dengan tuduhan Irak memiliki senjata pemusnah massal yang bisa mengancam kehidupan Amerika. Tentunya yang paling diuntungkan dalam kondisi perang ini adalah Amerika dan Zionis Israel. Sebab, setelah kejatuhan Saddam maka tidak ada lagi satu Negara telukpun yang berani membangkan kebijakan Amerika ke depan. Irakpun menjadi Negara boneka Amerika. Naudzubillah min dzalik.

Ada satu hal yang membuatku sangat terenyuh. Amerika memiliki sebuah senjata yang memekakkan telinga, bahkan bisa memecahkan gendang telinga. Sehingga menimbulkan rasa takut yang mencekam pada kelompok anak-anak dan wanita saat perang berlangsung.. Aku mulai sedikit tersindir dengan keadaan di buku ini. Tak bisa kubayangkan betapa mereka mengalami ketakutan yang tak terperikan, sementara aku siang ini mengumpat habis-habisan karena tidak bisa tidur mendengarkan suara bising dari samping kosku. Sementara pandanganku melayang melanglang buana mereka-reka ketakutan mereka. Seolah-olah ketakutan itu bermain di pelupuk mataku. Apakah kita pernah memikirkan ketakutan mereka di balik kesenangan kita? Apakah kita pernah membandingkan keadaan kita yan gemerlap dan segala kemewahan yang kita milki dibandingkan apa yang mereka alami dan lalui selama ini? 

Apakah kita pernah merasakan ketakutan yang mereka alami saat dentuman-dentuman melemahkan nadi dan urat saraf mereka? Ini hanyalah sebuah contoh kecil yang tak pernah kita fikirkan.

Yang kita tahu hanyalah menyalahkan oang lain, mengumpat dan menebarkan  berjuta-juta keluh tanpa memandang bahwa masih banyak yang lebih menderita daripada kita. Masih banyak jiwa-jiwa yang hidupnya tak tentu, berjalan, mengais seonggok luka hingga kemudian menelan banyak duri dalam hidupnya. Sampai kapan kejadian-kejadian seperti ini usai dengan segala kebiadabannya. Kututup bukuku rapat-rapat dan kukembalikan ket empat semula. Aku  berpaling dan melihat dinding kosku yang penuh dengan tempelan Koran kompas. Aku kembali terpaku pada sebuah judul tulisan “Penggusuran”. Kembali aku memaki-maki diriku sendiri karena ketidak syukuran yang kumiliki. Kulayangkan fikiranku mambayangkan bahwa betapa ketakutannya mereka yang hidup di dalam sebuar rumah yang berdindingkan dos-dos bekas dan beralaskan tanah. Siang dan malam mereka akan dihantui dengan ketakutan yang begitu mencekam, dihantui dengan suara sirine petugas yang melewati istana mereka dan terus berjaga-jaga jikalau suatu hari nanti istana mereka akan digusur. Tentunya suara mobil telah mematahkan dinding dos yang rapuh itu. Hingga rasa takut itupun semakin membuncah tat kala tempat anak-anak mereka yang tidur dengan pulasnya, tertawa dan berbagi rasa meskipun atap rumah mereka adalah langit yang membentang laus. Dimana saat terik matahari datang mereka akan kepanasan dan saat hujan turun mengguyur, maka mereka akan kedinginan.. Namun semuanya telah diratakan dengan tanah.

Jerit histeris dan tangis haru akan terdengar melolong di sepanjang jalanan. Namun tak ada seorangpun yang iba dengan keadaan ini. Yang ada hanyalah gelak tawa dan pesta kemenangan  para pejabat yang telah menguasai lahan pasaca penggusuran tersebut. Semakin hari drama yang semakin memuakkan terjadi di negeri kita Indonesia ini. 

Dimanakah sila ke dua Pancasila disembunyikan? “Kemanusian yang Adil dan Beradab” kayaknya kata-kata itu telah berubah menjadi “Kemanusiaan yang Rakus dan Biadab” sungguh miris dan sekali lagi kumengatakan bahwa sangat miris. 

Takkan pernah usai memikirkan perut sebelum nyawa dicabut. Takkan pernah usai konflik ini jika pemim pin-pemimpin kita kebanyakan tidak jujur.

Aku bersandar di kursi dalam kamarku, sedikit menyadarkan diri dan menyadarkan pembaca, bahwa jangan pernah meneyesali setiap nikmat yang telah diberikan olehNya. Pandanglah ke bawah sebagai landasan instrospeksi diri. Kemudian menolehlah keatas sebagai landasan motifasi. Semoga kita senantyasa menjadi insan yang bersyukur dan tidak banyak mengeluh.

Seminar LP2M UIN Alauddin

Washilah- Lembaga Penelitian dan Penalaran Mahasiswa (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menyelenggarakan Seminar Sehari dengan tema “Aktualisasi, Integrasi Keilmuan“ melalui karya ilmiah Senin, (14/05/2012) di Gedung Lecture Theater (LT) Fakultas Sains dan Teknologi (FST).


Seminar yang dibuka oleh Natsir Siola sebagai Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan mengatakan pentingnya Lembaga Penelitian dan Penalaran Mahasiswa untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dalam penelitiannya. “Lembaga Penelitian ini penting dalam melatih mahasiswa dalam menyusun makalah”. Ujarnya.


Seminar yang diadakan dengan tujuan pengenalan LP2M ke lingkup mahasiswa UIN Alauddin Makassar di hadiri oleh mahasiswa dari berbagai jurusan dengan materi analisis data yang di bawakan oleh Dr H Abdul Wahab SE.

UKM eSa Adakan Pentas Bulanan

Setelah pergantian kepengurusan UKM Seni eSa Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, pengurus baru periode ke-15 mengadakan pentas seni sebagai salah satu program kerja bulanan. Rabu, (09/05/2012) di samping gedung A Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dipasang garis pembantas sebagai area kegiatan pentas seni pertama yang diadakan dalam kepengurusan mereka. 

Acara yang dimulai pukul 10.00 Wita mengajak para mahasiswa yang haus akan pentas seni untuk gabung dan ikut berpartisipasi. Karya seni seperti sketsa, teater, galeri art dan menyanyi ditampilkan dalam kegiatan tersebut.

Abdul Wahid Karib ketua umum UKM Seni eSa mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk memberi ruang seni bagi mahasiswa yang haus akan karya seni. "kampus terlalu hampa dan kaku, seni dapat menghilangkan efek jenuh di kampus" Tambahnya.

Mutmainna salah satu mahasiswa Biologi Sains semester 4 mengaku sangat terhibur dan salut atas kegiatan yang diadakan oleh para pengurus. (Mitanhamy)

Pemilihan Dekan, Adab Satu Suara

Washilah Online - Pemilihan dekan di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) berlangsung dengan penuh kekeluargaan, Kamis (10/05/2012). Hal tersebut terbukti dari hasil musyawarah mufakat yang kembali memutuskan dekan sebelumnnya yaitu Prof. Dr. Mardan, M.Ag untuk kembali mengisi kursi kepemimpinan di fakultas yang telah berdiri selama 45 tahun tersebut.

Beliau dianggap masih layak dan mampu memimpin FAH untuk kedepannya. Dengan alasan itulah kedua calon dekan terverifikasi tersebut memberikan suaranya kepada dekan yang telah menjabat sejak 2008 lalu itu. Hal itu pun disambut baik oleh 15 anggota senat yang memiliki hak suara pada pemilihan itu.

"Ini adalah pemilihan dekan terlancar yang pernah ada di Adab, tidak ada hambatan sama sekali, semua berjalan dengan penuh rasa kekeluargaan,” kata ketua panitia pemilihan dekan FAH yang juga merupakan Pembantu Dekan II di Fakultas tersebut sewaktu diwawancarai oleh washilah sesaat setelah pemilihan tersebut usai.

Hasil pemilihan itupun disambut baik oleh mahasiswa FAH sendiri, “saya senang Prof. Mardan yang terpilih kembali, beliau memang seorang pemimpin yang ramah dan pantas buat Adab,” ungkap Fajar, ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FAH.

Sebelumnya tiga calon dekan yang diverifikasi oleh anggota senat yaitu, Prof. Dr. Mardan, M.Ag (Dekan FAH 2008-2012), Dr. Barsihannor, M.Ag (Pembantu Dekan I FAH), dan Dr. Abd. Muin, M.Hum (Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FAH). (Aj)

Dialog Terbuka "KPK Masuk Kampus" UIN

Washilah--Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, hari ini, Senin (07/05) mengadakan Dialog terbuka dengan tema “KPK Masuk Kampus”. Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Auditorium itu menghadirkan ketua umum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Trias Politika RI Ambar Chriadiana SE dan Dr Muhammad Sabri Ar sebagai Pembicara.

Presiden Mahasiswa, Taufik Yamani, mengatakan, dialog ini sebenarnya akan mengadirkan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dr Abraham Samad SH sebagai pembicara. 

“Dialog ini sedianya dihadiri oleh Abraham Samad. Tapi, jam 10 tadi, beliau harus terbang ke Jakarta untuk memimpin rapat dengan anggota DPR-RI bidang Hukum” Ujarnya saat memberikan sambutan.

Dalam pemaparannya, Ketua Trias Politika, Ambar C, menjelaskan mengenai batasan-batasan kasus yang harus diurusi serta jumlah kasus korupsi yang telah KPKtangani.

“ sampai saaat ini KPK telah menangani 23 kasus Korupsi dan perlu teman-teman ketahui, bahwa kpk hanya berhak mengurusi kasus korupsi yang nilainya mencapai 10 Milyar ke atas. Sedang, yang 10 milyar kebawah itu diurusi oleh Kejaksaan dan Polda” jelasnya.

Selain itu, Ambar juga meminta partisipasi aktif mahasiswa dalam membantu KPK menangani masalah korupsi.(Luke)
 
Design by washilah online | Bloggerized by Edy - ...... | IT PRODUCTION